Menanggapi sebuah komentar begini :
“Dulu saya percaya bahwa diam itu emas. Tapi sepertinya tidak selalu. Kita juga perlu [terampil] bicara !“
Hadits Nabi :
Sesiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah mengatakan yang (dan dengan) baik atau (segera) diam saja.
Kalau soal ma ota, memang saya akui orang Minang pada umumnya jagok. Dan itu pula yang membuat mereka bisa survive (bahkan menjadi pembesar) dimana saja, tapi tidak sebaliknya (siapapun akan sangat kewalahan “menghadapi” orang Minang dikandangnya).
Lepas dari kelebihan ma ota itu, ada satu hal paling berarti yang saya pelajari, yakni “packaging technique” atau bagaimana orang Minang mengemas semesta pembicaraan menjadi begitu menarik meskipun yang dijual (cuma) cabe. Tengok penjual emas, umumnya kalem2 aja…
.
Sebenarnya, kemampuan ini tidak lepas dari kemampuan dasar orang Minang (baca : Menang) yang diatas rata2. Bak kata Taufik Bahaudin, kemampuan komunikasi itu identik dengan (mungkin tepatnya perpaduan) kemampuan kognitif/logis dan kecepatan berpikir, smarter and faster. Kata lainnya ini bagian dari brainware management systems yang tentu saja dapat dibina, dikembangkan. Kalau tidak, mungkin tak akan muncul orang2 seperti Buya HAMKA, Agus Salim, M Yamin, Emil Salim, dst (tak terkecuali owner blog ini
.
Nah, malangnya, keahlian ini pula yang kadang2 membuat (paling tidak anggapan saya) kita agak “susah” mempercayai (mentah-mentah) orang Minang… maaf. Kata tepatnya : orang Minang susah diajak untuk BAIYO-IYO. Prinsip hidupnya pun pelik : takuruang nak dilua, taimpik nak diateh (terkurung maunya diluar, terhimpit maunya di atas). Prinsip yang bagus banyak juga, tapi maunya “yang orang Minang tetap Menang”. He..he….
Trik : menghadapi orang Minang, anda harus punya kecerdasan diatas rata2, kosakata yang banyak, interpretasi tak hanya satu, dan yang pasti siap untuk adu jotos bila diperlukan…he..he.
(Komen berdasarkan pengalaman hidup).
Salam
Adu jotos ?