Assalamu ‘alaikum
Fenomena maraknya aliran2 sesat sesungguhnya bukan hal yang baru dan mengejutkan, ia bahkan sangat dinamis sebagaimana berputarnya kehidupan manusia.
Secara umum, saya menarik satu benang merah bahwa :
“Dimana peran ulama + pemerintah tidak bersatu dan kuat, maka serta merta “aliran sesat” akan tumbuh dengan sendirinya (dan bahkan subur)”.
Dgn kata lain, saya berpendapat bahawa “aliran sesat” ini sesungguhnya bentuk lain dari pelecehan terhadap ulama + pemerintah tadi. Kita bisa lihat didua negara (yg kita kenal baik), yaitu Malaysia dan Arab Saudi. Didua negara ini, nyaris (kalau tdk 100%), kita tak mendengar yang namanya aliran sesat (mudah2an saya tak salah amati). Kenapa? Karena begitu muncul (sedikit saja) gejala, maka Mufti akan langsung berbicara dan memberi rekomendasi, shg tidak memberi ruang gerak bagi pencetus dan pengikutnya untuk melar dan mengembung. [btw mungkin ini sejalan dengan opini penulis]
Jangankan aliran sesat, isu HAM dan Liberalisme pun nyaris tak terdengar (cam Isuzu Panther aja :)).
Nahh, persoalannya kemudian adalah : apakah adanya kepemimpinan yang kuat akan menjadi jaminan ??
Kita tahu bahwa kepemimpinan yang (terlalu) kuat mempunyai kecendrungan untuk anti-demokrasi (Di Arab Saudi, demokrasi adalah bid’ah. Di Malaysia, demokrasi = anarkhis dan penghancuran, claim pemerintah). Efeknya tentu kepada lahirnya kehidupan anti perbedaan, tidak toleran / tasamuh, berpikir monoton alias tak kreatif dan inovatif dan malah benar2 konservatif. Ini menjadi trade mark negara2 kerajaan dibanyak tempat.
[Saya teringat dengan sekelompok “jama’ah” yang mulai banyak di Indonesia, perihal kebiasaannya menjatuhkan vonis bid’ah, sesat, menyimpang, tidak sesuai sunnah, dsb yang sejenis, sampai2 kesimpulan saya, kalau berbeda dengan jama’ahnya berarti sesat. Menurut saya, ini merupakan produk dari negara dengan Grand Mufti dan kepemimpinan yang dominan. Mungkin lain waktu bisa kita bincangkan]
Islam sejatinya berada diantara dua kutub ini alias moderate (dengan batasan tsawabit dan dinamika mutaghayyirat). Karena itu Islam menjadi (satu2nya) alternatif jika kita menginginkan kehidupan yang dinamis (bebas berkreasi, berinovasi demi kemajuan dan peradaban Islami) namun tidak melewati batas2 baku tadi. Islam wasathan, Islam modernis. Islam yang bisa mengatur alam ini dengan berbagai corak pemikiran manusia (yang pasti selalu berkembang), tanpa meninggalkan akar umbi tamadun yang telah ditetapkan Allah SWT melalui Sunnah Rasulullah saw. Wallahu a’lam.
Salam
[...] sebenarnya jauh sebelum ini, setiap kita juga sudah melakukan kenormalan ini. Tetapi masalah sesat atau tidaknya pemahaman tersebut, biarlah MUI yang [...]
Islam sejatinya berada diantara dua kutub ini alias moderate (dengan batasan tsawabit dan dinamika mutaghayyirat) —> Setuju.
Jangankan zaman sekarang peran ulama+pemerintah tidak bersatu… Khalifah (yang sebenarnya) masih tegak, nabi palsu turun-temurun hingga empat orang… jadi akan terus ada karena memang tafsir agama kita itu sangat terbuka… Dan memang di dalam Al Qur’an akan ada Al Masih turun… nah dari pemicu inilah aliran2 itu mengaku sebagai Al MAsih… wallahu a’lam… salam kenal.